31 Mei 2012

Hati Ngepot Gara-Gara TABULAMPOT


Tulisan kurang penting ini berawal dari minat yang tiba-tiba muncul tanpa didahului wangsit dan ritual berendam 7 hari 7 malam di empang Haji Jali. Sesuatu yang secara spontan membuatku penasaran dan akhirnya berusaha mengenal lebih dekat. Takdirku sebagai insan yang mudah jatuh hati mengantarkanku menelusuri sosok penuh kharisma bernama ‘tabulampot’. Tentu, ia tidak memiliki hubungan kekerabatan dengan Mang Cepot apalagi Mak Erot.

Tabulampot atau tanaman buah dalam pot merupakan metode budidaya tanaman buah dengan media tanam berupa pot, bukan ditanam langsung di area pekarangan. Ketertarikanku pada pesona tabulampot jauh dari niat ikut-ikutan trend, seperti era jemani, gelombang cinta, dll. Justru aku sangat terlambat. Sementara teman dan para tetangga sudah sekian lama menikmati sensasi memetik lengkeng Diamond River, mangga Gedong Gincu, sawo Manila, rambutan Rapiah, hingga Srikaya Merah hanya dengan berjalan beberapa langkah dari kamar tidur, hasratku pada tabulampot baru muncul dalam sepekan terakhir.  

Semua berawal dari ketidaksengajaanku melewati sebuah stan tanaman bibit unggul di samping kantor seminggu yang lalu. Bertepatan dengan perayaan hari jadi kabupaten tempatku mengasi rejeki, berbagai rangkaian acara digelar. Selain karnaval, live music, dan pesta rakyat, panitia penyelenggara juga menghelat pameran bonsai dan tanaman bibit unggul. Singkat cerita, aku tergoda membeli bibit mangga berjenis kiojay dengan harga tiga puluh ribu rupiah.  Wujudnya yang ‘centil’ tertancap manis didalam polybag hitam. Tingginya sekitar 50 cm, berupa batang berdiameter 0,5 cm dengan jumlah daun yang kurang dari 20 helai. Menurut mas –mas penjual yang wajahnya sepintas mirip bassis-nya Soneta Group (oke, seleraku emang revolusioner), mangga kiojay ialah jenis buah mangga yang buahnya panjang dan langsing, namun rasanya sangat manis walaupun belum matang. Jadi bisa dipetik dan dinikmati saat masih ‘remaja’, tanpa harus menunggu ranum. Cucok lah, jadi ga perlu berebut ama codot. Dan, inilah penampakan bibit mangga tersebut:

semoga tumbuh menjadi mangga yang berbakti bagi nusa, bangsa, dan ibu pertiwi

Ternyata  ada teman sekantorku yang tertarik. Keesokan harinya ia kuantar ke stan yang sama. Kebetulan hari itu adalah hari terakhir pameran. Setelah membaca rapal mantra, ia memutuskan membeli bibit jeruk Shantang Madu. Tanpa dosa, aku pun spontan mengikuti jejaknya dan dengan insyaf membeli bibit tanaman serupa (dasar wanita tak punya jati diri, enyah kau Lasmini!). Padahal sebenarnya aku lebih tertarik pada bibit sawo Manila. Tanaman tersebut sangat cantik dihiasi beberapa buah yang bergerombol di batang sekundernya, tinggal menunggu masa untuk dipetik. Harga yang dibandrol tujuh puluh lima ribu rupiah. Sangat pantas untuk membuat dompetku menjerit histeris. Sindrom tanggal tua cukup ampuh menyadarkanku dari rasa kilap dan kalap. Bye-bye pu’un sawo, doakan aku bisa memboyongmu kapan-kapan yaaa..kiss n hug.


Bibit Shantang Madu kubeli dng harga 50 rebu perak (hiks, uang jajan seminggu)


Semoga jerukku bisa secantik ini :


tanaman yang sexy, bukan?
 (source : google)

Well, masih ada alasan lain yang membuatku tertarik dengan tabulampot. Say thanks to Indomie dan es jeruk. Uhm, dalam penyajian Indomie,  menu tambahan apa sih yang membuat mie instan ngetop ini terasa lebih nikmat? Diracik dengan sayuran-kah? Ditambah telur ayam kampung? irisan daun bawang? atau beberapa sendok kornet?. Bisaaaa… Tapi masih ada satu esensi yang pantang dilewatkan dalam menyempurnakan cita rasa kuliner bertajuk mie instan. Si cabe rawit! Selezat apapun mie instan yang kubuat, ga bakalan nendang tanpa kehadiran beberapa iris cabe rawit. Dan, ide suami untuk menanam beberapa tanaman cabai rawit disamping rumah, yang awalnya kupandang kurang populis, ternyata cukup brilian (sembah-sembah deh cint!). Sensasi yang kurasakan saat memetik langsung dari pohonnya hingga terhidang dan siap disantap, truly, segar luar biasa. 

Euforia norak ini belum berhenti, pemirsa. Kuintip tabulampot jeruk nipis imut-imut (dalam bahasa Jawa disebut jeruk ‘wedang’) yang ditanam suamiku beberapa minggu lalu. Eh..satu, dua..waaah ada tiga yang berbuah!. Indomie rebus pedas dipadu dengan segelas es jeruk manis, bukankah itu kenikmatan duniawi? Kupetik dua buah dan sengaja kusisakan satu untuk kupandang tiap pagi sebelum berangkat ke kantor.


Jeruk nipis/ jeruk wedang
Simple, chic, and elegant 
(emangnya testimoni foto tas Herpes-nya Syahrini?)


hantu jeruk purut yang ditanam suami bersamaan dengan jeruk nipis

Oh, di sudut rumah ternyata juga ada dua pot tanaman lengkeng yang masih unyu-unyu pemberian dari rekan suami.  Usianya memang baru beberapa bulan. Jenisnya belum bisa kudeteksi dengan ilmu ke-sotoy-an ku, apakah lengkeng ini berjenis Itoh, Diamond River, atau Pingpong. Namun, aku selalu merajut impian dan memintal harapan (bahasanya sob!), agar dua mahluk itu bisa memberikan sumbangsih optimal berupa produksi lengkeng terbaik dan tersedap meski bukan dalam skala komersial.  Kabulkan doa Baim ya Allah...

bibit lengkeng yang belum jelas asal-usulnya (perlukah tes DNA?)

Anyway, Rabu kemarin ada kunjungan spesial dari konsultan produk pupuk yang sedang dipasarkan di daerahku. Pupuk ini (konon) mampu menyuburkan dan mempercepat proses pembuahan. Hasil yang diperoleh (sesuai testimoni pada brosur dan leaflet yang kubaca di media online cukup signifikan. Tanaman yang diberi pupuk super tersebut, baik jenis bunga, daun, maupun buah, tumbuh dengan subur dalam waktu yang lebih singkat. Aku tertarik membelinya. Lucky me, selama proses pre-order, tim mereka dengan sukarela memberikan panduan bagaimana cara mengaplikasikan pupuk tersebut. Semacam service lah. Mulai dari mencampurkan komponennya hingga teknik pemupukan yang tepat, diberikan dengan lengkap dan gratis (poin terakhir yang jadi favoritku!). Mereka meminta aku menunggu +/- 1 minggu lagi untuk melihat perubahannya. Horeeee….. , doakan kami ya!!



pupuk ditakar , cukup 1 tutup botol

dimasukan dalam ember yang berisi 4L air

disiramkan ke permukaan tanah seminggu sekali

Terimakasih Pak Dodok, Pak Gun dan Pak Fatur untuk bantuannya. Barakallah...


BONUS:
Sebagai motivasi, termasuk buat diri sendiri, silakan dinikmati beberapa tabulampot yang sukses ditanam (dicomot dari Google). Menggemaskaaaaan ^^:

mangga golek

anggur hijau

jambu air

                                                                      belimbing

jeruk kimkit

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar