10 Juni 2013

"Merawat Kenangan"


Adakah yang abadi mengikuti perjalanan insan hingga kini?
Mengapa ia sering menghampiri walau pintu hati terkunci ?
Siapa yang mampu mewujud diantara rasionalitas dan ilusi?

Kusebut ia...kenangan.

Penyair sekaligus seniman Kahlil Gibran menuliskan, "Kenangan adalah satu-satunya anugerah dari Tuhan yang tidak bisa direnggut meskipun oleh maut". Aku setuju. Kenangan akan selalu ada hingga sukma lepas dari raga. Ia terus mewujud tanpa peduli hati yang ingin mengingkari.

Kenangan masa kecil adalah salah satu goresan yang lekat menyertaiku sampai kini. Momentum terindah saat hidup belum 'terjajah' karena sang waktu bergulir tanpa terburu-buru. Hal yang paling melekat adalah kala aku terjebak dalam rutinitas berjeruji candu. Ya..., saat pertama kalinya menjejakkan kaki kurusku di tempat itu.

Tempat ajaib itu berupa Perpustakaan Wilayah (Perwil), sebuah bangunan kokoh milik pemerintah, berlantai dua yang letaknya bersisian dengan Taman Budaya Raden Saleh. Jarak dari sekolahku ke Perwil kira-kira 6 km, biasa kutempuh dengan menumpang angkutan umum ber-cat orange tua. 

Mengunjungi perwil menjadi agenda wajib di hari Sabtu. Pulang sekolah, dengan memanggul tas ransel yang kebesaran hingga seolah sanggup menelan tubuh mungilku, aku lari tersengal mengejar angkutan umum. Maklum, terkadang pak kernet enggan membawa penumpang berseragam SD karena mereka, termasuk aku, hanya membayar 50% dari tarif normal. Aku lupa, kenapa aku memilih hari Sabtu sebagai 'hari perpustakaan'. Mungkin karena keesokan harinya adalah hari libur, sehingga tak perlu pulang cepat-cepat untuk mengerjakan PR ataupun mengulang pelajaran?  Bisa jadi...

Keakraban dengan Perwil merupakan turning point ku dalam berkenalan dengan buku-buku bermutu. Usia yang belum genap 10 tahun tidak menghalangi antusiasmeku untuk melahap "suplemen" jiwa berwujud buku. Pengarang favoritku yang karya-karya nya menjadi bacaan wajib saat itu sebut saja Astrid Lindgren  , Enid Blyton, Laura Ingalls, dan Hilman Hariwijaya.  Aku lebih menggemari cerita yang berlatar belakang keluarga dan sekolah/ asrama daripada seri detektif maupun misteri. Misalnya untuk karya-karya Enid Blyton; bagiku, seri Si Anak Badung, Malory Towers, dan St. Clare (ketiganya punya background yang sama yakni asrama dan sekolah) lebih memukau ketimbang seri Lima Sekawan, Sapta Siaga, Pasukan Mau Tahu dan seri petualangan lainnya . It's about taste, right?

Dan,selama 7 bulan terakhir ini aku berusaha merajut kembali  benang-benang "kejayaan"di  masa kecil dengan mengoleksi buku-buku yang dahulu setia menemaniku di sudut ruang Perpustakaan Daerah.

Inilah puing-puing kenangan yang berhasil aku kumpulkan....


1. Karya LAURA INGALLS WILDER
Siapa yang bisa lupa sosok Laura, baik dalam novel bergenre sejarah "Little House on the Prairie" maupun serial televisi dengan judul yang sama? Gadis periang, putri kedua keluarga Ingalls ini memang seorang pioneer kesayangan Amerika dan dunia. Kisahnya sangat menginspirasi serta sarat pembentukan budi pekerti. Tak heran jika buku seri "Little House on the Prairie" merupakan harta karun yang wajib dikoleksi. 


Seri Laura dalam Little House on the Prairie cetakan pertama (tahun 80-an). Lengkap sudah ...

Ini Seri Laura edisi cetakan tahun 90-an yang masih kurang 3 judul lagi. Awalnya tidak berniat mengoleksi versi ini, tapi kalau dilepas rasanya tidak tega


Koleksi lengkap Seri Laura edisi 2011. Sebagian sumbangan para donatur budiman.  Thank you so much...


Tanpa sengaja menemukan edisi bahasa Inggris di toko buku bekas
Terbaru dari seri Rumah Kecil, cergam dwi bahasa (14 seri)


Biografi Laura Ingalls dengan Cover "Litlle Laura" (Melissa Gilbert) dan DVD Litlle House season I s/d III 


2. Karya ASTRID LINDGREN
Nama dan karya Astrid Lindgren sudah sangat familiar sejak aku kelas 3 SD. Semua tema yang ditulis oleh wanita asal Swedia ini selalu jadi favorit. Mataku pun enggan melepasnya hingga lembar terakhir. Karya-karyanya memang didedikasikan untuk anak-anak. Itulah mengapa ia selalu konsisten memakai gaya bahasa, plot, dan sudut pandang anak-anak dalam menyusun cerita. Dan, aku jatuh cinta dengan semua buku yang ditulisnya...


Ada dua judul yang aku belum dapat sampai saat ini, "Pippi Menggunduli Pohon Natal dan Karlsson si Manusia Atap". Anyone?


Hunting ini berbulan-bulan, eh sekalinya nemu langsung dua buku. Yang satu mau saya sale. Minat?



3. Karya ENID BLYTON
Dari buku-buku Enid Blyton, inilah yang menjadi tema cerita favoritku...


Seri Lebah, 1 s/d 8
Kisah "Malory Towers" yang sempat membuatku ingin merasakan sekolah yang berbasis asrama


Seri kesayanganku, "Si Badung". Baris atas adalah cetakan pertama (thn 1984) sedangkan baris dibawahnya ialah cetakan terbaru (tahun 2012)

beberapa judul lainnya



Semasa kecil aku pernah phobia/ paranoid dengan sosok badut, namun setelah membaca seri "Sirkus", secara ajaib 'penyakit' itu mendadak sembuh!



4. Karya EDITH UNNERSTAD

Di Indonesia, tercatata hanya empat judul karya Edith Unnerstad yang bisa diperoleh di toko buku, yakni kisah keluarga Peep-Larson yang seru dan penuh kejutan. Dari keempat novel tersebut, "O-Mungil" lah yang paling membuatku gemas setengah mati...
Cerita di tiap seri-nya selalu unik, lucu, dan unpredictable!


5. Karya HILMAN HARIWIJAYA

Siapa yang tak mengenal LUPUS? Bagiku, ia adalah sosok fiksi karya anak negeri yang selalu mendapat tempat tertinggi di hati. Aku mengenalnya saat duduk di bangku kelas IV SD. Karena ketagihan membaca LUPUS, aku berharap bisa bersekolah di  SMA Merah Putih agar bisa bertemu dengan karakter yang aku kenal dari novel, yakni Lupus, Gusur, Boim, Poppi, Fifi Alone, dan sebagainya.  Hmm..imaji seorang bocah....

Mulai 'dilahirkan' di tahun 1986 dalam bentuk cerpen yang dimuat di majalah HAI, LUPUS kini menjelma menjadi novel dan bundel. Tercatat 59 judul novel LUPUS  plus 4 bundel telah diterbitkan Gramedia.  Hingga saat ini, seri LUPUS  masih menjadi buruan para kolektor dan pecintanya. 

Sang penulis, Hilman Hariwijaya, bukanlah nama yang asing. Selain penulis novel, kini ia juga disibukkan sebagai penulis skenario film, sinetron, dan FTV.  Ssudah lebih dari 100 judul buku yang telah ditulisnya, antara lain:  seri LUPUS, LULU, OLGA, VLADD, KELUARGA HANTU, VANYA, dan beberapa seri lepas lainnya.  Sebagian bahkan sudah diangkat ke layar lebar. Awesome!


Koleksi Lupus yang bertengger mulus di rak buku. Lengkaaap. Wohoooo

Dari semua buku yang ditulis Hilman, akhirnya 99% bisa kudapatkan. Ada 1 (satu) buku yang sulit kuperoleh, yakni "10 Tokoh Showbiz Musik Indonesia". Adakah teman-teman yang memiliki dan berniat menjual? Mohon informasinya, ya... .  




7. Karya DOROTHY EDWARDS
Hmmm...seri "Adikku Yang Nakal" selalu memikat untuk dibaca. Aku lebih suka cetakan yang baru karena covernya warna-warni. Unyu maksimal, kan? Eerr...,gara-gara buku inilah dulu aku pernah merajuk ke orang tua kalau aku tidak mau punya adik lagi. 


Seri lengkap "Naughty Little Sister"

6. KISAH KLASIK LAINNYA
Aku mengoleksi dongeng atau cerita klasik anak-anak yang dulu pernah kubaca kisahnya.  Kini, cerita-cerita tersebut telah  diterbitkan ulang dalam banyak versi. 




QUOTE :



"Aku telah membuka semua pintu dan melepas merpati-merpati itu pergi. Tanpa pesan, tanpa persinggahan. Melintasi taman paling rindu tempat kau bunuh kenangan kita berkali-kali. Dan sungguh aku tak akan pernah memberinya denyut nadi lagi agar hidup kembali, seperti tokoh-tokoh kartun, yang dulu kau tonton di televisi....” 
( Helvy Tiana Rosa, motivator, dosen, penulis) 



“Kenangan perlu ada dalam hidup untuk dikenang, ditertawakan dan menjadi warisan ingatan kepada anak keturunam” 

1 komentar: